Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data yang
mengatakan, jumlah orang miskin di Indonesia sebesar 860 ribu orang dalam
jangka setahun terakhir. Menurut pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy, hal
itu menunjukkan Indonesia benar-benar sedang terpuruk.
Dia menambahkan, kenaikan jumlah orang miskin itu
membuktikan, kebijakan dalam APBNP 2015 justru membuat masalah, khususnya
terkait Pasal 13 ayat (3). Sebab, lanjut Noorsy, pasal itu mengamanatkan agar
subsidi BBM dicabut dan lantas ditukar dengan kartu-kartu “sakti”, seperti
Kartu Indonesia pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera.
Segenap kartu pengganti subsidi BBM itu, tegas Noorsy, pada
akhirnya terbukti tidak mengatasi kemiskinan. Justru ratusan ribu orang jatuh
miskin.
“Itu yang saya bilang, pencabutan subsidi BBM jauh lebih
berat membebani daripada pemberian bantuan langsung sementara,” ucap
Ichsanuddin Noorsy kepada Republika.co.id, Rabu (16/8).
“Artinya, proteksi sosial, bantuan sosial itu, tidak mampu
mengatasi kebijakan pemerintah yang salah,” sambung dia.
Noorsy menambahkan, pemerintah telah salah ganda sehubungan
dengan bertambahnya jumlah orang papa. Pertama, lantaran pemerintah mencabut
subsidi BBM, perekonomian rakyat terbebani. Kesalahan kedua, pemerintah salah
mengantisipasi kondisi perekonomian global.
Menurut Noorsy, pemerintah tak sedari awal mempersiapkan
antisipasi “gelombang besar” perang nilai tukar di tingkat global. Padahal, currency
war sudah terprediksi sejak 2008.
“Dampaknya, inflasi naik. Walaupun disebut terkendali, tapi
hasilnya kemiskinan,” kata dia.
Belum lagi, gelombang PHK yang dilakukan
perusahaan-perusahaan besar milik pemodal asing. Di sisi lain, usaha mikro
kecil dan menengah (UMKM) yang dimiliki orang Indonesia banyak yang gulung
tikar lantaran naiknya harga bahan-bahan baku. (republika.co.id, 16/9/2015)



0 Comments for "Orang Miskin Bertambah, Pengalihan Subsidi BBM Terbukti tak Efektif"