
Oleh : Maulana Jati
Setiap muslim yang membaca berita bersumber dari media Wall Street Journal (WSJ) ini, ada yang tersontak tidak mempercayai apa yang dilaporkan oleh media tersebut dan ada yang memang sudah memprediksikan sebelumnya. Ketidakpercayaan memang akan hadir ketika melihat ormas Islam terbesar di Indonesia, yang tidak mungkin mengkhianati saudara muslimnya di Xianjiang. Namun, jika lihat beberapa kejadian dan pernyataan memang menunjukkan pembungkaman itu terlihat.
Dalam pemberitaan Internasional, China sudah memperkusi dan menzhalimi jutaan umat Islam Uighur di Xinjiang, menghancurkan masjid-masjid, melarang puasa Ramadhan, melarang mendidikkan Islam kepada generasi dan lainnya.
Para pakar hak asasi manusia PBB pun sudah memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur telah ditahan di banyak kamp penahanan di Xinjiang. Pemerintah China menyebutnya kamp pendidikan ulang.
Namun, anehnya, Said Aqil Siradj menjamin tidak ada diskriminasi dan kekerasan terhadap minoritas muslim Uighur di Xinjiang. Said mengklaim pemberitaan persekusi atas muslim Uighur tidak tepat karena pemerintah China telah menjamin hak beribadah mereka.
Dan sekarang, semua terbuka. Ada laporan dari salah satu media Amerika yang berkedudukan di New York, Media Wall Street Journal, memberitahukan ada dua organisasi massa (ormas) Islam terbesar di Indonesia dibujuk China agar diam dan bungkam terkait masalah yang terjadi pada Muslim minoritas Uighur di Xinjiang, Cina.
Dalam laporan WSJ tersebut, Sebelumnya para pemimpin Muhammadiyah membuat surat terbuka pada bulan Desember tahun 2018 lalu, yang menyatakan ada dugaan kekerasan terhadap komunitas Uighur oleh pemerintah China. Ormas ini bahkan menuntut penjelasan China dan memanggil duta besarnya di Jakarta. Pada saat itu, ramai sejumlah kelompok Islam melakukan aksi di depan kedubes China sebagai bentuk protes tidak terima terhadap dugaan adanya kamp penahanan muslim di sana.
Kemudian China berusaha meyakinkan ormas Islam bahwa tak ada kamp konsentrasi dan penahanan, yang ada adalah kamp pendidikan vokasional untuk muslim Uighur.
Dalam laporan itu, menyebutkan puluhan tokoh agama Indonesia bersama wartawan dan akademisi dibawa ke Xinjiang, untuk melakukan tur kunjungan atas fasilitas-fasilitas kamp penahanan China. Saat tur, Pemerintah China menjelaskan terkait terorisme dan serangan teroris yang mereka klaim dilakukan oleh Uighur.
Kemudian peserta tur diundang untuk doa di masjid-masjid Xianjiang. Di kamp tersebut, mereka mengunjungi ruangan kelas, China mengklaim sebagai tempat muslim Uighur menerima pelatihan kerja mulai dari peternakan sampai manajemen hotel.
Dan tentunya setelah melakukan tur ke kamp tersebut, ada perubahan. Hal ini, dipaparkan oleh WSJ bahwa terlihat ada perbedaan pendapat para tokoh senior NU dan Muhammadiyah soal dugaan persekusi Uighur sebelum dan setelah kunjungan ke Xinjiang.
Seorang ulama senior Muhammadiyah yang mengikuti tur ke Xinjiang--dikutip dalam majalah resmi Muhammadiyah--mengatakan bahwa sebuah kamp yang dia kunjungi sangat bagus, memiliki ruang kelas yang nyaman dan tidak seperti penjara.
"Ada masalah dengan ekstremisme di Xinjiang dan mereka (China) menanganinya, mereka memberikan solusi, pelatihan keterampilan," kata Masduki Baidlowi, seorang tokoh dari NU dan PKB yang juga ikut kunjungan ke Xianjiang. Beliau kini juga menjabat sebagai Stafsus Wapres Ma’ruf Amin.
WSJ mengatakan pernyatan Said Aqil Siroj diatas juga merupakan hasil dari upaya China.
Dan WJS memaparkan bahwa China menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama setelah isu Uighur kembali mencuat ke publik pada 2018 lalu.
Kemudian Muhyiddin Junaiddi, Kepala Hubungan Internasional MUI, mengatakan usaha China mengundang beberapa tokoh Islam Indonesia ke Xinjiang didesain untuk "mencuci otak opini publik". Beliau bahkan mengatakan bahwa ada tokoh Muslim Indonesia yang dulu mengkritik China terkait muslim Uighur, berubah membela China. Namun, beliau menyatakan tidak semua yang ikut ke Xinjiang membela China terkait kebijakannya.
Inilah yang dilanda kaum muslimin di berbagai tempat di Dunia. Di tempat dimana mereka minoritas mereka akan dipersekusi dan dizhalimi, bahkan mereka dibasmi. Di tempat dimana mereka mayoritas mereka tidak selamat dari tuduhan radikalisme dan terosime.
Jika berita upaya China di atas benar, maka sangat dan sangat disayangkan sekali. Persaudaraan yang dibangun oleh Rasulullah saw terhadap kamu muslimin dengan menjadikannya seperti satu tubuh seolah-olah terkoyak. Hati ini masih belum menerima, namun pemikiran sudah jauh ke sana.
Kasihan sekali muslim Uighur setelah mereka mendapatkan penderitaan, namun tidak ada saudara muslim yang membela mereka, sebagimana pembelaan kepada muslim Palestina. Ini sangat miris sekali, menyayat hati. Setiap muslim yang meyakini persaudaran Islam akan sangat merasakan jiwanya terguncang. Tidak bisa melakukan apapun kecuali berteriak, melakukan opini dan berusaha membela mereka.
Ini juga terus membuktikan perlunya kaum muslimin bersatu dan bangkit bersama menyatukan langkah, memusatkan kekuatan untuk menghilangkan kezhaliman kepada mereka dan memusnahkan musuh-musuh mereka.


0 Comments for "MEDIA WSJ : CHINA MAMBAYAR NU DAN MUHAMMADIYAH AGAR BUNGKAM SOAL UIGHUR"