
Oleh : Nasrudin Joha
Mungkin seluruh pembantu Jokowi tak bisa memberi 'advice' yang benar tentang bagaimana membungkam suara rakyat. Jokowi, setiap hari pusing karena setiap kebijakan yang digulirkan selalu dikritik dan ditentang rakyat.
Padahal, Jokowi merindukan rakyat yang damai, mentaati, mencintai, mulutnya 'tidak sowak' protes melulu. Jokowi, juga bisa lebih tenang mengemban amanah, tidak direcoki rakyat terus.
Sayangnya, Jokowi dibisiki pembisik solusi keliru. Misalnya, untuk membungkam rakyat Jokowi melakukan kriminalisasi pada ulama, aktivis, bahkan ajaran Islam. Jokowi sibuk menggulirkan narasi radikal radikul, anti Pancasila, NKRI, dan narasi sesat lainnya.
Padahal, untuk membungkam, menyumpal mulut rakyat agar diam itu mudah. Cukup sejahterakan rakyat, pasti mereka diam. Cukup berbuat adil, pasti rakyat bungkam.
Seandainya, gaji rakyat besar, pekerjaan mudah, sembako murah, listrik murah, BBM murah, sekolah murah, kesehatan gratis tak perlu bayar premi BPJS, pasti para pengkritik Jokowi itu tak punya pengikut. Mereka akan berteriak seperti radio rusak, karena tak akan diindahkan rakyat.
Seandainya, hukum ditegakan dengan adil, pasti semua seruan-seruan perlawanan akan diabaikan. Tidak akan ada tuh demo berjilid jilid, tak ada narasi Jokowi antek asing, tak ada ujaran menyebut hukum tebang pilih.
Justru masalahnya disini, Jokowi gagal menyejahterakan rakyat tapi malah sibuk tuding sana sini. Jokowi zalim kepada rakyat, sibuk kriminalisasi, tapi juga sibuk menyalahkan elemen Islam.
Maka wajar, meskipun rezim Jokowi represif, menangkapi sejumlah aktivis, anti kritik, semua itu tak membuat mulut rakyat diam. Rakyat sudah putus urat takutnya, karena bosan selalu disalahkan padahal selalu taat bayar pajak.
Kondisi seperti ini tidak mungkin bisa ditutupi dengan politik pencitraan. Foto selfie, atau ngevlog. Bikin seminar radikalisme, atau melakukan sejumlah penangkapan.
Suara nurani rakyat itu alami mencari saluran. Mereka, kalau lapar bukan hanya bersuara bahkan bisa anarkis. Mereka tdk peduli lagi dengan tudingan radikal radikul. Bosan mereka.
Saat rakyat sudah marah, kondisi lebih menyulitkan. Karena, apapun kebijakan Jokowi akan dianggap kedustaan yang mengulang. Rakyat hanya akan mempercayai apa yang telah dilakukan bukan apa yang dijanjikan.
Karena itu Pak Jokowi, segera bungkam mulut rakyat. Dengan menyejahterakan mereka dan berbuat adil. Bukan dengan tereak radikal radikul dan tawarkan solusi aneh aku pencasila.


0 Comments for "CARA 'MEMBUNGKAM' MULUT RAKYAT"