
Oleh : Nasrudin Joha
Kita wajib menyadari bahwa kita tak pernah mewarisi bangsa ini. Kita, telah mendapat amanah dari anak cucu kita, agar menjaga bangsa ini, agar kelak mereka, bisa bernaung, hidup dan bahagia dari bangsa yang kita wariskan kepada mereka.
Karena itu, menjaga bangsa ini, memperbaiki negeri ini, bukan kewajiban kita demi kehidupan kita saja. Tetapi juga demi untuk menjaga amanah, agar negeri ini, bangsa ini, sampai pada generasi anak dan cucu cucu kita kelak.
Jika kita memilih diam pada kezaliman yang dipermaklumkan, sibuk menjaga diri, tapi melupakan masa depan bangsa ini, melupakan anak cucu kita, melupakan amanah yang diberikan kepada kita, maka kita tak layak melanjutkan kehidupan, jika kehidupan itu akan menjadi cemoohan, menjadi umpatan, anak cucu yang menyalahkan kita, atas tidak amanah nya kita menjaga negeri ini.
Kita tak bisa lagi, mempedulikan ketakutan dan ancaman, jika kita serius ingin menjadi bapak bangsa, yang mewariskan kebajikan dan legacy kenegarawanan. Mereka, anak cucu Kita, merindukan teladan dan kebanggaan dari warisan sejarah yang kita turunkan.
Kita telah melihat, dengan kasat mata bagaimana rezim ini berbuat zalim. Bukan hanya melihat, kita juga merasakan bersama, betapa kezaliman itu sangat menyesakkan dada kita.
Keliru besar, ketika kita mengambil pilihan diam dan terus bersabar, padahal kita bisa berbuat banyak untuk melakukan tindakan penyelamatan. Kita, memiliki lisan untuk bicara, memiliki jari untuk menulis, memiliki smartphone untuk menyuarakan paket seriosa kebajikan untuk mengusir tirani dan penindasan.
Wahai para pejuang, para ksatria perubahan, anda tidak mungkin mengambil pilihan diam, padahal anda telah membaca seruan ini. anda tak mungkin mengabaikan tulisan ini, padahal tulisan ini tidak ditulis kecuali menyuarakan apa yang menggumpal dan menyesakan dada-dada Anda.
Jadilah martir perubahan, bersama Nasrudin Joha untuk melawan rezim tiran. Jadilah bapak bangsa, yang bertanggung jawab atas masa depan anak cucu kita.
Yang punya kewajiban takut itu rezim, bukan kita yang dizalimi. Mereka, yang telah merampas hak anak cucu kita, wajib takut atas kezaliman dan kerusakan yang mereka timbulkan.
Mereka, wajib terus terjaga siang dan malam, untuk memastikan singgasana mereka tidak jatuh, dirong-rong kezaliman mereka sendiri. Mereka yang harus terus diteror ketakutan, atas semua dosa dosa mereka kepada umat.
Wahai umat, jangan jadikan anak cucu Kita, masa depan bangsa ini, menangis sedih karena mewarisi bangsa yang telah rusak binasa. Jika itu yang kita lakukan, maka kita akan dikecam sebagaimana rezim yang zalim ini, pasti di cerca dan dibenci sepanjang sejarah peradaban bangsa.


0 Comments for "WAHAI UMAT, BANGKITLAH ! MELAWANLAH !"